Daya Dukung dan Pertumbuhan Populasi Siamang

Siamang (Symphalangus syndactylus Raffles, 1821) adalah jenis primata arboreal (sebagian besar hidupnya pada tajuk pohon) dan merupakan jenis endemik Pulau Sumatera (Nijman dan Geissman, 2008). Siamang dalam The IUCN Red Data List of Thtreatened species (2014) sejak tahun 2008 sudah termasuk kategori terancam punah/endangered (IUCN, 2014).

Berdasarkan tingkat kerentanan terhadap perdagangan satwa liar, siamang tergolong Appendix I Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES). Siamang memiliki ukuran tubuh paling berbeda dibandingkan dengan jenis ungko (Hylobates sp.) lainnya. Siamang jauh lebih besar dan memiliki berat tubuh mencapai 10–15 kg (Nopiansyah, 2007). Siamang memiliki ciri khas, yaitu kantung suara (gular sacs) dan memiliki selaput di antara jari-jari tangan dan kakinya.

Siamang hidup dalam kelompok-kelompok sosial terkecil, terdiri dari jantan dan betina dewasa dengan 1–4 individu anaknya (Geissmann et al., 2006). Habitat dan sebaran siamang, selain di Pulau Sumatera ditemukan juga di Semenanjung Malaysia dan Thailand. Habitat siamang adalah hutan tropis yang tersebar mulai dataran rendah pada ketinggian di atas 300 m dpl sampai dengan 1.500 m dpl. Tipe habitat ungko dan siamang dapat berupa hutan primer, hutan sekunder, hutan dataran rendah dan hutan rawa (Sultan et al., 2009).

Habitat siamang sebagian besar saat ini mengalami penurunan kuantitas maupun kualitasnya sebagai dampak konversi hutan, seperti untuk perkebunan, terutama di Pulau Sumatera (Nijman dan Geissman, 2008). Menurut Geissman (2007), sekitar 70–80% habitat utama siamang hilang selama 50 tahun terakhir seiring dengan meningkatnya kerusakan hutan. Fragmentasi habitat mengakibatkan populasi satwa liar termasuk siamang menghuni area yang sempit dengan kondisi daya dukung yang sangat terbatas sehingga pertumbuhan populasinya kurang optimum karena harus mampu beradaptasi dengan perubahan ekosistemnya (Doswald et al., 2014; Ranta et al., 2006).

Pada area terdegradasi komposisi tumbuhan, keragaman jenis dan regenerasi tanaman akan rendah (Sathish et al., 2013). Populasi siamang yang tersisa menyebar juga di area budi daya sehingga semakin mudah diburu dan ditangkap masyarakat karena areanya sudah didominasi oleh aktivitas manusia, seperti di sekitar KCA Dolok Sipirok, Sumatera Utara. Saat ini populasi siamang di kawasan tersebut diperkirakan sekitar 691 individu (Kwatrina et al., 2010) dan rawan terhadap kepunahan lokal.

Kawasan Cagar Alam Dolok Sipirok ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 226/Kpts/Um/14/1982, tanggal 8 April 1982 dengan luas keseluruhan mencapai 6.970 ha. Secara administratif terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan ini dapat dicapai dengan kendaraan dari Medan melalui Pematangsiantar, Tarutung sampai Sipirok sekitar 7–8 jam perjalanan. Kawasan ini merupakan habitat yang diperkirakan masih mampu mendukung kehidupan siamang apabila dikelola secara tepat dan ditunjuk menjadi
lokasi prioritas untuk konservasi siamang (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumut, 2011). Untuk mendukung rencana aksi konservasi siamang di kawasan tersebut, informasi yang penting segera diketahui di antaranya mengenai produktivitas tumbuhan pakan, daya dukung bersinergi, dan prediksi pertumbuhan populasinya.

Menurut Miranda dan Lima (2010), Olsson dan Hössjer (2015), hasil analisis model pertumbuhan logistik dapat digunakan untuk melakukan evaluasi proses perubahan populasi yang mungkin terjadi di masa mendatang. Informasi ini merupakan bagian prioritas yang harus segera diketahui untuk merumuskan program pelestarian siamang dan pengelolaan optimal KCA Dolok Sipirok.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi tentang daya dukung pakan serta model pertumbuhan populasi siamang di KCA Dolok Sipirok, Sumatera Utara.

*****

Sumber Foto: By Ltshears (Own work) [CC BY-SA 3.0 or GFDL], via Wikimedia Commons

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: