Gambaran KPHK Taman Nasional Bukit Tigapuluh

KPH Konservasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) sebelumnya merupakan kawasan taman nasional yang secara resmi ditunjuk pada tahun 1995 melalui Surat Keputusan Menhut Nomor 539/Kpts-II/1995 yang merupakan penggabungan kawasan Hutan Lindung (HL) di wilayah Provinsi Riau dan Jambi serta alih fungsi sebagian kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) di wilayah Riau. Kawasan TNBT secara geografis terletak pada 00 40’ – 10 25’ LS dan 1020 30’ – 1020 50’ BT dengan luas 144.223 ha. Secara administratif kawasan ini terletak di dua propinsi, yaitu Provinsi Riau di Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir serta Propinsi Jambi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tebo. Sebagian besar wilayahnya berada di Provinsi Riau, yaitu 77%. Panjang batas kawasan TNBT keseluruhan sekitar  ± 368 km. Selanjutnya status kawasan sebagai taman nasional diperkuat lagi melalui ketetapan Menhut melalui SK Menteri Kehutanan nomor 6407/Kpts-II/2002 tanggal 21 Juni 2002.

Kawasan TNBT adalah salah satu perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Sumatera yang mempunyai nilai dan fungsi konservasi yang luar biasa dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan sumber plasma nutfah potensial. Ekosistem kawasan TNBT mampu menyediakan jasa lingkungan seperti air, udara bersih, dan keindahan alam. Keberadaan TNBT juga merupakan satu kesatuan ekosistem dengan wilayah sekitarnya yang menjadi habitat tumbuhan dan satwa liar penting serta endemik Sumatera. Satwa liar terancam punah yang berada di landscape Bukit Tigapuluh antara lain harimau sumatera, gajah sumatera, orangutan dan beruang.

Sebagai kawasan taman nasional, maka pengelolaan TNBT dibagi ke dalam zonasi-zonasi (Departemen Kehutanan, 1999). Peruntukan zona pada kawasan TNBT meliputi tiga zona utama yaitu zona inti seluas 79.601 ha, zona rimba seluas 51.247 ha dan zona pemanfaatan seluas 2.643 ha. Selain zona utama terdapat dua zona lainnya, yaitu: zona rehabilitasi seluas 1.651 ha dan  zona khusus seluas 1.651 ha (Balai TN. Bukit Tigapuluh, 2014). Penunjukan zonasi di TNBT sampai saat ini masih bersifat indikatif.  Hal ini karena peruntukan zonasi tersebut dinilai sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kawasan saat ini. Pembagian zona saat ini tidak sesuai dengan nomenklatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan No. 56 tahun 2006 tentang Zonasi Taman Nasional.

Kawasan TNBT selain merupakan habitat beragam jenis tumbuhan dan satwa dilindungi, juga merupakan tempat tinggal masyarakat tradisional. Masyarakat tradisional yang tinggal di TNBT terdiri tiga suku, yaitu Suku Talang Mamak, Melayu Tua, dan Anak Dalam (Orang Rimba atau Suku Kubu). Masyarakat Suku Anak Dalam hidup berpindah-pindah di dalam TNBT secara menyebar, khususnya di bagian barat dan selatan, masyarakat Suku Talang Mamak dan Suku Melayu Tua tinggal menetap di sepanjang Sungai Gansal yang membelah kawasan TNBT. Ada lima dusun yang didiami masyarakat tersebut, terutama di sepanjang Sungai Gansal, yaitu: Dusun Datai, Suit, Air Bomban-Sadan, Nunusan, dan Siamang. Masyarakat tersebut tinggal tersebar di 15 pemukiman dimana pemukiman Datai Tua, Suit, Air Bomban, Nunusan dan Siamang yang merupakan pusat dusun

2 thoughts on “Gambaran KPHK Taman Nasional Bukit Tigapuluh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: