Kesesuaian Habitat Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Kawasan TN. Bukit Tiga Puluh saat ini merupakan area pelepasliaran orangutan Sumatera yang dilakukan atas kerjasama Balai TNBT dengan Frankfurt Zoological Society (FZS) bersama mitra lainnya. Program pelepasliaran telah beroperasi selama 13 tahun yang dimulai sejak tahun 2002. Sebanyak 158 individu telah dilepasliarkan di mana ada 22 individu dinyatakan gagal. Sebanyak 20 individu diketahui mati dan 2 individu lainnya cacat permanen (Siregar, 2015). Kawasan pelepasliaran tersebut meliputi dua stasiun, yaitu stasiun pelepasliaran sungai Pengian (Desa Suo-suo) dan stasiun pelatihan dan adaptasi Open Orangutan Sanctuary (OOS) di Danau Alo yang keduanya berada di hutan produksi sebagai kawasan penyangga TNBT. Secara administrasi stasiun OOS berada di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan lokasi pelepasliaran berada di kabupaten Tebo di provinsi Jambi. 

Hasil penilaian kriteria dan indikator pada kawasan TN. Bukit Tiga Puluh adalah sebagai berikut:

aspek ekologi dari kriteria status kawasan, kondisi habitat, tipe ekosistem, luas kawasan, kerapatan pohon kawasan TN. Bukit Tiga Puluh memiliki nilai kriteria yang tinggi untuk dijadikan lokasi pelepasliaran orangutan (nilai 5-7). Pada kriteria kerapatan pohon sarang dan jenis pohon sumber obat bagi orangutan termasuk kategori sedang (nilai 3-5) dan dari aspek potensi persaingan dengan satwa lainnya memiliki peluang persaingan yang tinggi. Dari 11 kriteria pada aspek ekologi dinilai kawasan TN. Bukit Tiga Puluh memiliki potensi habitat yang sesuai untuk lokasi pelepasliaran orangutan dengan cacatan perlu adanya pengelolaan habitat berupa pengkayaan habitat, terutama pada area semak belukar dan hutan sekunder.

Berdasarkan aspek sosial ekonomi masyarakat, dari kriteria ancaman perubahan habitat, ancaman aktivitas manusia dan potensi konflik satwa dengan manusia secara umum termasuk kategori sedang – tinggi (nilai 3-7). Kawasan TN. Bukit Tiga Puluh telah menjadi tempat tinggal masyarakat tradisional, terutama dari Suku Talang Mamak yang menggantungkan hidupnya terhadap sumberdaya hutan didalamnya.  Begitu juga, hasil pengamatan di lapangan banyak ditemukan juga bekas aktivitas masyarakat penyangga di dalam kawasan, seperti pencurian satwa terutama jenis burung, penebangan kayu terutama dari jenis kelat untuk dijadikan bahan pengawet air nira atau aren.

Dari empat kriteria yang sudah diteliti mengindikasikan bahwa kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dinilai kurang sesuai untuk lokasi pelepasliaran orangutan karena aktivitas mayarakat yang dapat memberikan dampak negatif bagi kehidupan orangutan sangat tinggi. Untuk aspek kelembagaan dari kriteria manajemen kawasan sudah memenuhi syarat dengan adanya UPT pengelola kawasan yaitu Balai TN. Bukit Tiga Puluh sedangkan untuk kriteria peranan kelembagaan terkait lainnya, khususnya tingkat Kabupaten Indragiri Hulu masih dalam proses penelitian.

Hasil penelitian pada kawasan TN. Bukit Tiga Puluh masih terus berlanjut sampai tahun ini. Pada akhir penelitian akan dihasilkan satu penilaian kesesuaian habitat berdasarkan tiga aspek dan 18 kriteria di atas dengan rekomendasi sangat sesuai, sesuai atau kurang sesuai sehingga dapat menjadi rujukan bagi  Balai TN. Bukit Tiga Puluh untuk mengevaluasi dan mengembangkan rencana pengelolaan orangutan lepasliar kedepannya. Hal ini juga untuk memenuhi surat permintaan penelitian dari Balai TN. Bukit Tiga Puluh ke Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: