Kriteria dan Indikator Penilaian Cepat Kesesuaian Habitat

Program rehabilitasi orangutan Sumatera sudah dilaksanakan dari 40 tahun yang lalu, seperti di Bukit Lawang, TN. Gunung Leuser. Namun seringkali setelah orangutan siap dilepasliarkan dan reintroduksi kesulitan menentukan area yang cocok untuk mendukung perkembangbiakan orangutan. Oleh karena sampai saat ini, kriteria dan indikator untuk menilai kesesuaian habitat berdasarkan hasil kajian ilmiah belum banyak tersedia. Seringkali penetapan area hanya didasarkan secara tergesa-gesa sehingga pelaksanaannya dinilai kurang berhasil bahkan banyak orangutan yang gagal/mengalami kematian.

Berdasarkan pengalaman yang terjadi dalam program pelepasliaran orangutan,  penulis telah menganalisis berbagai kriteria dan indikator yang dapat digunakan untuk menjadi panduan dalam menetapkan calon lokasi pelepasliaran orangutan dengan harapan ditemukan lokasi yang lebih sesuai dan mampu mendukung kehidupan orangutan setelah lepasliar. Kriteria yang disusun dikelompokkan dalam tiga aspek, yaitu aspek ekologi, sosial masyarakat dan kelembagaan. Secara keseluruhan terdapat 18 kriteria dan dari setiap kriteria disusun beberapa indikator agar memudahkan dalam penilaian di lapangan. Uraian dari kriteria dan indikator tersebut adalah :

Aspek Ekologi

Kriteria yang termasuk dalam aspek ekologi merupakan yang paling banyak, yaitu sebanyak 11 kriteria, hal ini karena aspek ekologi dinilai merupakan aspek cukup penting yang akan menentukan pertumbuhan populasi satwaliar di alam, terutama orangutan. Kriteria dan indikator tersebut adalah Status Kawasan Hutan, Kondisi Habitat, Tipe Tutupan Lahan, Tipe Ekosistem, Luasan Kawasan/Habitat, Kerapatan vegetasi, Kerapatan pohon pakan, Persentase jenis pohon pakan, Sebaran jenis pohon sarang, Tumbuhan obat bagi orangutan, dan Peluang Persaingan

Aspek Sosek Masyarakat

Aspek sosial ekonomi masyarakat (sosek) sangat penting untuk dipertimbangkan dalam penetapan kriteria dan indikator calon lokasi pelepasliaran satwaliar, termasuk orangutan. Untuk lokasi penelitian, hal tersebut karena sampai saat ini hampir seluruh kawasan hutan juga merupakan sumber kehidupan manusia, terutama masyarakat tradisional, seperti Suku Talang Mamak di dalam TN. Bukit Tiga Puluh. Berbagai kriteria yang termasuk dalam aspek sosek masyarakat adalah: Ancaman perburuan satwa, Ancaman perubahan habitat, Ancaman Aktivitas Masyarakat, Potensi Konflik, dan Persepsi masyarakat.

Aspek Kelembagaan

Peranan kelembagaan dalam mendukung upaya konservasi orangutan dinilai masih belum optimal. Peranan dan tanggung jawab antar lembaga terkait harus diakui belum terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik.  Perbedaan kewenangan dalam pengelolaan satu kawasan habitat yang terdiri dari berbagai status hutan, juga sering menyulitkan upaya  konservasi satwa dan habitatnya. Sebagai contoh, hutan lindung merupakan kewenangan pemerintah daerah, cagar alam dan suaka marga satwa merupakan kewenangan pemerintah pusat, dan hutan produksi  wewenang pengelolaannya berada pada pemegang IUPHHK. Tumpang tindih kebijakan dan program antar lembaga sering terjadi sehingga konservasi satwa kurang efektif dan berujung pada kegagalan. Atas pertimbangan tersebut, maka terdapat berbagai aspek kelembagaan yang perlu dimasukkan dalam penyusunan kriteria dan indikator penetapan lokasi pelepasliaran orangutan yaitu Peranan kelembagaan terkait dan Manajemen Kawasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: