Orangutan Tapanuli, Kekayaan Hutan Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara (Sumut) merupakan salah satu provinsi yang memiliki kawasan hutan relatif luas. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 579/Menhut-II/2014, peruntukan kawasan hutan Provinsi Sumut seluas + 3.055.795,00 hektare. Salah satu kawasan hutan di Sumut yang sebagian besar masih merupakan hutan primer adalah blok hutan Batang Toru, Tapanuli yang luasnya diperkirakan sekitar 100.000 hektare.

Hutan alam Batang Toru mempunyai tingkat keunikan dan kekayaan keanekaragaman hayati serta ekosistem yang tinggi dan merupakan habitat beragam jenis satwa langka dilindungi, di antaranya harimau sumatera (panthera tigris sumatrae), beruang madu (helarctos malayanus), dan tapir (tapirus indicus). Satu lagi kekayaan hutan Batang Toru yang terpendam adalah orangutan. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, beberapa hari lalu, orangutan yang berada di hutan Batang Toru telah ditetapkan sebagai spesies baru dengan nama ilmiah pongo tapanuliensis (orangutan tapanuli).

Orangutan tapanuli secara genetika (tes DNA) menurut para peneliti memiliki gugusan DNA yang berbeda dengan orangutan sumatera di lokasi lainnya, seperti Taman Nasional Gunung Leuser maupun hutan Pakpak Bharat, bahkan lebih dekat dengan orangutan kalimantan.

Penetapan orangutan tapanuli sebagai spesies baru tentunya merupakan satu kebanggan bagi bangsa Indonesia, khususnya Pemerintah Provinsi Sumut. Namun tentunya juga memberikan konsekuensi, harus segara memprioritaskan program konservasinya. Hal ini karena hutan blok Batang Toru merupakan habitat terakhir spesies tersebut, walaupun penulis mengidentifikasi masih ada sedikit sebarannya di wilayah hutan Barumum berdasarkan hasil temuan sarang.

Secara kasat mata, orangutan di Tapanuli sedikit berbeda dengan orangutan sumatera di wilayah lainnya. Dari morfologi, warna bulu orangutan tapanuli tampak lebih terang kekuning-kuningan (seperti rambut berwarna pirang). Persentase jenis tumbuhan pakan buah dan daun hampir sama, berbeda dengan orangutan lainnya yang cenderung lebih banyak mengonsumsi buah. Hal ini kemungkinan merupakan cara untuk bertahan hidup akibat sebaran pohon penghasil buah pada hutan dataran tinggi Batang Toru sangat sedikit.

Habitat orangutan tapanuli bisa ditemukan dari ketinggian sekitar 400-1.500 meter dpl, seperti yang banyak ditemukan di kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali dan Dolok Sipirok, serta Suaka Alam Lubuk Raya. Kepadatan orangutan tapanuli apabila diklasifikasikan berdasarkan ketinggian tempat juga tidak berbeda secara signifikan, bahkan pada beberapa lokasi kepadatan pada hutan dataran tinggi (di atas 800 meter dpl) lebih besar dibanding hutan dataran rendah.

Hasil penelitian penulis memperkirakan kepadatan orangutan tapanuli berkisar 0,3-1,02 individu/km2. Hasil pendugaan pada beberapa hutan konservasi berkisar 0,47-0,53 individu/km2. Apabila kawasan hutan DAS Batang Toru diperkirakan sekitar 1.000 km2, maka diprediksi populasinya paling tinggi hanya sekitar 400-500 individu, di bawah kelayakan untuk bisa berkembangbiak dalam jangka panjang.

Perbedaan lain orangutan tapanuli adalah mereka lebih banyak membuat sarang pada ketinggian rata-rata hanya 6-15 meter di atas permukaan tanah, cenderung lebih pendek dibandingkan dengan orangutan di lokasi lainnya. Hal ini merupakan strategi orangutan untuk lebih mudah memantau keberadaan predator, terutama manusia. Sejak dulu hutan Batang Toru juga merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Tapanuli, seperti untuk mencari ikan, mengambil rotan, getah kemenyan, dan hasil hutan lainnya.

Keberadaan orangutan tapanuli saat ini terus terancam. Kerusakan hutan, degradasi dan fragmentasi habitatnya masih sulit dihentikan. Aktivitas pengamanan terhadap perburuan liar orangutan, terutama yang berada di luar hutan konservasi juga masing sangat rendah. Hutan Batang Toru saat ini telah terisolasi oleh berbagai penggunaan lahan, seperti perkebunan sawit, pertanian dan budidaya, permukiman sampai infrastruktur jalan dan aktivitas manusia lainnya.

Untuk melindungi keberadaan orangutan tapanuli tentunya membutuhkan kerja sama dari para pihak, mulai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Sumut, pemerintah kabupaten di Tapanuli, perusahaan swasta, LSM sampai lembaga masyarakat lokal. Saat ini, pelaksanaan konservasi agar berjalan baik harus dilakukan secara terpadu dengan model management collaborative.

Penulis merekomendasikan berbagai srategi dalam optimalisasi konservasi orangutan Tapanuli, di antaranya meningkatkan perlindungan habitat pada hutan konservasi, pengamanan dan memulihkan habitat orangutan yang rusak pada wilayah kesatuan pengelolaan hutan, pengembangan penelitian, menciptakan sumber ekonomi bagi masyarakat Batang Toru dan membentuk forum pengelolaan hutan berbasis multipihak pada DAS Batang Toru. Ke depan, kekayaan alam Tapanuli yang terpendam ini bisa lestari dan menjadi kebanggan masyarakat khusunya di Sumut.

*****

Sudah diterbitkan sebelumnya di Bisnis Daily, Selasa 7 November 2017

2 thoughts on “Orangutan Tapanuli, Kekayaan Hutan Sumatera Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: