Pemanfaatan Satwaliar Sebagai Obyek Ekowisata

Berdasarkan aspek ekologi satwaliar sangat terkait dengan lingkungan. Satwaliar secara terus menerus berinteraksi dengan lingkungannya, baik berupa nilai positif maupun nilai negatif. Satwaliar sedikitnya memiliki empat nilai penting bagi manusia, yaitu nilai penting ekonomis, nilai nutrisi satwaliar, nilai peranan ekologis dan nilai sosio-kultural.  Nilai ekonomi  dapat berupa pemanfaatan konsumtif dan  pemanfaatan nonkonsumtif, seperti aktifitas memberi nilai terhadap satwaliar tanpa memindahkan sumberdayanya.

Pemanfaatan satwaliar secara konsumtif telah mengakibatkan berbagai jenis bahkan sampai ribuan satwaliar menjadi terancam punah, termasuk di Pulau Sumatera. Perburuan satwaliar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi memang sudah berlangsung dari jaman pra sejarah.  Berbagai etnis tradisional melakukan perburuan untuk kebutuhan makan. Namun dengan semakin berkembangnya peradaban dan teknologi manusia, perburuan satwa bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi, akan tetapi untuk kepentingan bisnis dan kesenangan (hobi dan koleksi).  Keadaan ini bila semakin berlanjut maka akan semakin bertambah jenis satwaliar yang mengalami kepunahan.

Pemanfaatan habitat satwaliar yang berlebihan juga, terus menjadi pendorong semakin berkurangnya populasi di alam. Satwaliar yang habitatnya dibuka untuk berbagai kepentingan manusia, seperti lahan pertanian, perkebunan dan pemukiman akan mengakibatkan sebagian besar mengalami kematian, terutama jenis satwa yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Sebagai contoh, kegiatan konversi hutan di Sumatera terutama untuk lahan perkebunan telah merusak habitat lebih dari 50% habitat orangutan dan gajah. Satwa yang tersisa saat ini habitatnya telah terfragmentasi pada habitat yang sempit sehingga memicu adanya persaingan antar satwa dalam satu jenis maupun dengan jenis yang berbeda.  Dampak persaingan tersebut mengakibatkan perkembangbiakan, pertumbuhan dan dinamika populasi satwa akan terganggu dan semakin mudah untuk diburu.

Berdasarkan fakta yang terjadi pada saat ini, maka untuk mendukung eksistensi pemanfaatan satwaliar secara berkelanjutan, pemanfaatan secara konsumtif harus dikurangi dan lebih ditingkatkan model pemanfaatan non konsumtif.  Model pemanfaatan non konsumtif sudah seharusnya dikembangkan dan menjadi prioritas dalam pengelolaan satwaliar di masa mendatang.   Salah satu upaya untuk meningkatkan model pemanfaatan satwaliar secara non konsumtif adalah melalui pengembangan ekowisata.  Ekowisata satwaliar diharapkan dapat menjadi ’core bisnis’ untuk pemanfaatan satwaliar, terutama pada kawasan hutan yang diperuntukan sebagai lokasi perlindungan keragaman hayati, seperti di KPH Konservasi.

Perubahan sistem pengelolaan kawasan hutan menjadi model KPH dengan tujuan untuk  meningkatkan tata kelola hutan dan lahan (forest and land governance) yang lebih efisiensi,transparansi, dan akuntabilitas dapat menjadi momen untuk mengembangkan pengelolaan ekowisata satwaliar, terutama pada KPH Konservasi seperti di KPHK TN. Bukit Tigapuluh.  Melalu sitsem KPH, pengelolaan taman nasional dapat lebih menyeimbangkan antara fungsi perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan.  Kewenangan KPH di dalam pemanfaatan sebagaimana tercantum dalam peraturan pemerintah (PP) No. 6 tahun 2007 jo PP No. 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan, Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, hendaknya dapat diberlakukan kepada Taman Nasional tanpa harus melanggar sifat pemanfaatan terbatas yang melekat padanya, seperti yang tertuang dalam Departemen Kehutanan (1999). Pemanfaatan secara lestari yang meliputi semua upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan potensi kawasan dan ekosistemnya dapat dilakukan dengan dampak yang terukur dan terkendali.

Melalui pengembangan ekowisata yang berorientasi untuk menikmati keindahaan alam, pemanfaatan potensi taman nasional dapat lebih dikembangkan tanpa kekhawatiran akan merusak potensi yang ada di dalamnya (Christ et al., 2003). Pengalaman di negara-negara Afrika, memberikan bukti bahwa pengembangan ekowisata dan kawasan konservasi dapat memberikan penghasilan yang cukup besar seperti di Kruger National Park.  Demikian pula di Malaysia dengan Taman Nasional Kina Balu, Yosemite di Amerika Serikat dan Peak District di Inggris memberikan kontribusi yang besar bagi pendapatan negara. Apalagi di Indonesia yang memiliki obyek ekowisata yang sangat menarik dan endemik, seperti satwaliar tentunya akan memberikan peluang ekowisata lebih maju apabila dikelola dengan tepat.

One thought on “Pemanfaatan Satwaliar Sebagai Obyek Ekowisata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: