Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Suaka Margasatwa Karang Gading

Pengelolaan hutan secara berkelanjutan adalah proses mengelola lahan hutan permanen untuk mencapai satu atau beberapa tujuan, yang dikaitkan dengan produksi hasil dan jasa hutan secara terus menerus dengan mengurangi dampak lingkungan fisik dan sosial yang tidak diinginkan. Pada setiap unit pengelolaan hutan dibentuk institusi pengelola. Insitusi pengelolaan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pengelolaan hutan yang meliputi perencanaan pengelolaan, pengorganisasian, pelaksanaan pengelolaan, pengendalian serta pengawasan.

Pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) didasarkan pada pertimbangan karakteristik lahan, tipe hutan, fungsi hutan, kondisi daerah aliran sungai, kondisi sosial, budaya, ekonomi masyarakat, kelembagaan masyarakat setempat, batas administrasi pemerintahan, hamparan yang secara geografis merupakan suatu kesatuan, baris alam atau buatan yang bersifat permanen serta penguasaan lahan. Seluruh faktor yang digunakan sebagai dasar pertimbangan tersebut didasarkan untuk menentukan kriteria pembentukan wilayah KPH sehingga memenuhi kepastian wilayah kelola, kelayakan ekologi, kelayakan pengembangan kelembagaan pengelolaan hutan serta kelayakan pengembangan pemanfaatan hutan.

KPH dikelola oleh organisasi pemerintah yang menyelenggarakan fungsi pengelolaan hutan. KPH berperan sebagai penyelenggara pengelolaan hutan di lapangan atau di tingkat tapak yang harus menjamin bahwa pengelolaan hutan dilakukan secara lestari sesuai dengan fungsinya. Dalam satu wilayah KPH dapat terdiri dari satu fungsi pokok hutan yang penamaannya ditentukan oleh fungsi hutan yang luasnya dominan. KPH yang luasan arealnya didominasi oleh hutan konservasi disebut sebagai Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK).

Berdasarkan fungsi pokok yang terdapat di dalamnya, maka  SM KG/LTL dapat diusulkan sebagai calon Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK). Keberadaan SM KG/LTL sebagai calon KPHK dimaksudkan untuk melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan keunikan alam serta pengembangan pendidikan, pariwisata, peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari pencemaran sehingga akan lebih memastikan diketahuinya potensi hutan, perubahan-perubahan yang terjadi maupun kondisi masyarakat yang tergantung pada manfaat sumber daya hutan. Keberadaan SM KG/LTL dapat lebih dirasakan manfaatnya, tidak hanya untuk kepentingan konservasi secara luas, akan tetapi dapat berpengaruh bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

One thought on “Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Suaka Margasatwa Karang Gading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: